![]() |
| Sumber foto: 2.bp.blogspot.com |
Paparan di bawah ini tidak akan menjadi ilmu yang bermanfaat bagi mereka yang rumahnya agreng-mentereng, besih nan asri. Tapi bagi mereka yang memiliki potensi “sadism”, ilmu ini bermanfaat untuk menyalurkan hasrat holocaust atau genocide yang juga pernah diidap oleh Mister Hitler atau Tuan Stalin. Supaya naluri purbamu tersalurkan, maka implementasikanlah ilmu dalam tulisan ini secara mangkus.
Ilmu di bawah ini akan mengutak-atik sedikit saja tentang kecoa. Tak bisa disangkal, kecoa adalah makhluk yang menyebalkan. Air kencing kecoa bila kena ke mata, bisa membuat daun kelopak mata jadi bintitan. Tulisan ini tidak akan memerinci epidemic apa saja yang disebarluaskan oleh kecoa. Yang jelas, makhluk yang bisa terbang ini dianggap gangguan. Kiranya fakta itulah yang mendorong Nano Riantiarno menulis naskah Opera Kecoa (sekuel dari trilogy Bom waktu, Opera Kecoa, dan Opera Julini). Dalam naskah Nano, kecoa adalah simplifikasi dari bohemian yang berkeliaran di kota-kota, dan menjadi gangguan bagi aparat. Kecoa memang bohemian yang bertahan hidup dengan jalan mencuri dan “merongrong”. Kata merongrong, akan menemukan korelasinya dengan Lumbung Negara yang digerogoti para kecoa.
Kecoa sejaman dengan gajah dan komodo, atau lebih tua dari penciptaan Adam. Artinya, kecoa memiliki kemampuan untuk bertahan hidup yang luar biasa. Bila kepala dan badan kecoa dipotong, ternyata ia bisa bertahan hidup selama dua minggu. Kecoa juga memiliki kemampuan beradaptasi yang tinggi, yang membuatnya survive di berbagai lokasi. Kecoa juga kebal terhadap beberapa jenis racun. Endrin misalnya, dapat membunuh tikus, tapi kecoa imun terhadap endrin. Karena itulah, jarang ditemui obat anti kecoa yang mujarab.
Tetapi kecoa memiliki kelemahan. Ia tidak betah hidup di tempat yang terang oleh cahaya matahari maupun oleh lampu neon. Juga ia tidak betah hidup di tempat yang wangi dan asri. Karena itulah kecoa jarang ditemukan di rumah elite. Kecoa lebih betah hidup di got, atau di gudang-gudang yang gelap dan bau, lagi berantakan. Tentang tempat yang wangi dan asri ini akan ada korelasinya dengan suatu fakta mengapa banyak kecoa berkeliaran di kantor pemerintah.
Apabila saluran pembuangan kamar mandimu tidak tertutup kawat berjaring dan terhubung ke got, maka bila kamar mandi gelap, kecoa akan bemunculan. Salah satu pintu masuk kecoa ke dalam rumah memang melalui saluran yang terhubung ke got. Karena itu, bila ingin kecoa tidak masuk melalui kamar mandi, maka sebaiknya kamar mandi selalu menyala dengan lampu, teutama pada malam hari. Secara alamiah, kecoa memang setara dengan kalong, jombie, atau vampire yang takut cahaya matahari. Di siang hari, mereka bersembunyi. Sungguh menyebalkan, ketika hendak buang hajat malam-malam, dan saat menyalakan lampu kamar mandi, tiba-tiba kecoa berkeliaran dan sulit diusir. Malah, ketika diusir, ada yang lari ke ujung kaki dan masuk ke dalam celana. Bajingan memang. Ada preman yang tidak takut dengan golok, tapi kocar-kacie oleh kecoa. Hahaha.
Di rumah kontrakanku yang baru, saluran pembuangan air di kamar mandi tidak tertutup kawat jaringan, hingga kecoa bahkan tikus bisa masuk. Dan itu baru kuketahui pada saat malam-malam ingin kontemplasi mencari ilham di atas wastafel. Sialan, si kecoa langsung berhamburan saat lampu kunyalakan. Tambah sial lagi, saat menjerang air untuk menyeduh kopi yang kebetulan pintu kamar mandi langsung terhubung ke dapur, ternyata kecoa-kecoa itu berhasil masuk ke dapur melalui ventilasi kamar mandi. Saat hendak masak air itulah kutemukan satu dua kecoa yang belingsatan mencari tempat persembunyian. Karena ia nervous, maka asal sembunyi saja.
Aku biarkan mereka bersembunyi. Begitu air sudah mendidih, kuambil seciduk dengan sendok, dan kusiramkan ke si kecoa itu. Tubuhnya langsung menggelinjang dan menggelepar, dan tak lama, mampuslah ia…. Hahahaha, senangnya aku. Dari pengalaman empiric itu, aku punya ide iseng sebagaimana juga Hitler pernah iseng melakukan holocaust.
Aku akan melakukan holocaust sebagaimana Hitler pernah melakukannya. Lalu kuambil sepinggan roti, dan kuikat ke cangkir. Kutaruh roti dan cangkir itu di kamar mandi, lalu kumatikan lampu, dan aku kugodok sepanci air. Setelah air mendidih, kumasukkan ke dalam ember, dan segera kubuka kamar mandi, dan kulihat melalui keremangan cahaya dari dapur, para kecoa sedang menggerogoti roti, dan segera kusiramkan air itu dengan sepenuh dendam. Betapa hatiku girang melihat makhluk hidup pada menggelepar kesakitan, lalu mampus. Rasa senang dan bahagia langsung menjalar ke dalam tubuh. Kiranya, perasaan senang seperti ini pula yang dirasakan oleh Hitler saat melakukan holocaust.
Kuhitung, lebih dari 10 ekor malam itu kecoa-kecoa mampus. Ya, inilah ilmu yang kurajut sendiri dari pengalaman di lapangan. Filsuf Umberto Eccho mengatakan, ilmu terbaik ialah yang dirumuskan sendiri dari pengalaman di lapangan.
Aku merenung di wastafel sambil mencari ide untuk mengembangkan ilmu ini menjadi lebih efektif dan bermanfaat bagi bangsa dan negara. Mungkinkah kita menemukan metode yang efektif untuk membunuh kecoa-kecoa yang berkeliaran di kantor pemerintahan?
Bila pemimpin pemerintah lembek seperti SBY, tentu sulit membunuh kecoa-kecoa yang bangkit dari got itu. Malah saking lembeknya, kecoa-kecoa itu telah mengepung rumah SBY, di mana Nazaruddin yang bendahara Partai itu, adalah contoh kongkret betapa kecoa telah merajahi rumah-rumah SBY.
Ada hadits dhaif yang berbunyi, qutlubul ilma walau bi tsin (carilah ilmu hingga ke negeri China). Orang Eropa mengakui, wangsa Mongoloid itu memang hebat bahkan pernah menakutkan Eropa ketika Jengis Khan bangkit. Amerika mulai serius memperhitungkan China. Nabi saja yang punya akses terhadap Tuhan, masih menyerukan supaya belajar hingga ke Negeri China. Memang di sana banyak ilmu praktis yang bermafaat, termasuk ilmu membunuh Kecoa.
Di era kekuasaan Kakak Mao Zedong, rumah tangga China amat rapuh karena digerogoti oleh kecoa-kecoa yang korup. Setelah Kakak Mao mangkat dan para pengikutnya berlarian, pemerintah China kemudian menerapkan hukum gantung untuk kecoa. Ilmu hukum gantung yang setara dengan hukum kisos ini ternyata cukup efektif untuk membereskan masalah kecoa.
Nah, kalau SBY tidak punya naluri membunuh secara masal, jangan harap ia bisa membangun negeri ini. Paling-paling ia mampu membangun rejim atau dinasti-nya. Bila tidak mampu tegas dan tidak berani melakukan holocaust, ya bunuh saja satu-satu, dan harus dipersaksikan kepada teman-temannya, supaya teman-temannya jera. (Bersambung).

yahhh dikira bener tentang pembunuhan
BalasHapusasli geleuh pisan
BalasHapus